Layanan Utama

  • Senin, 21 Mei 2012
    Halaman yang menyuguhkan informasi tentang arsip perundangan di Republik Indonesia
  • Senin, 21 Mei 2012
    Layanan pencarian khasanah arsip Kantor BPAD DIY secara online, gunakan username dan password
  • Senin, 21 Mei 2012
    Katalog buku BPAD DIY adalah sarana penelusuran koleksi buku yang dimiliki BPAD Provinsi DIY. Penelusuran dapat dilakukan dengan simple mode (judul buku) dan advanced mode (judul buku atau pengarang).
 

Berita Foto

 

BPAD Video

SERAT SURYARAJA
Kategori : Resensi Buku Ditulis : Rabu, 20 Juli 2011 Hits : 1581 oleh : Administrator

Serat Suryaraja



Kekayaan Budaya Yogyakarta

Pendahuluan

Hasil kebudayaan yang diungkapkan oleh teks klasik dapat dibaca dalam peninggalan-peninggalan yang berupa tulisan tangan atau naskah atau manuskrip. Istilah manuskrip berasal dari kosa kata bahasa Inggris: manuscript, artinya naskah. Dalam dunia ilmu sastra teks atau tulisan yang terdapat dalam naskah adalah sesuatu kandungan yang bersifat abstrak, sedangkan manuskrip atau naskah adalah bentuk konkritnya. Maka dari itu, pemahaman terhadap teks klasik hanya dapat dilakukan melalui naskah yang menjadi tempat penyimpanannya (Baried, 1985: 4). Dari pengertian ini lalu timbul istilah naskah kuno, yaitu naskah yang berusia lebih dari 50 tahun.

Hasil budaya yang berbentuk naskah terdapat di berbagai suku bangsa di Nusantara. Naskah-naskah di berbagai suku bangsa itu mengandung isi yang beraneka ragam, sejarah, cerita fiksi, dongeng, legenda, pengobatan tradisional, wayang, cerita panji, ajaran atau piwulang, dan sebagainya. Pendeknya, semua aspek kehidupan pada masyarakat, khususnya kehidupan masyarakat pada jaman karya itu diciptakan, tergambar dalam hasil karya nenek moyang yang berwujud naskah. Dilihat dari sifat mengungkapannya kebanyakan isinya mengacu kepada sifat historis, didaktis, religius, dan belletri (cantik, indah).

Naskah kuno, pada masa sekarang banyak tersimpan di berbagai perpustakaan, museum, ataupun masih dikoleksi oleh perseorangan. Koleksi naskah di perpustakaan atau museum biasanya mempunyai katalog tersendiri yang dibedakan dari katalog buku  atau pustaka yang lain. Hal ini karena naskah mempunyai spesifikasi dan biasanya membutuhkan perlakuan khusus dalam perawatannya. Dapat dimaklumi karena naskah kuno adalah benda istimewa, langka, satu-satunya, dan sudah tidak dihasilkan lagi. Berbeda dengan buku atau pustaka pada jaman sekarang yang dapat dicetak ulang, naskah sebagai hasil tulisan tangan para pujangga masa lalu sudah tidak ada lagi yang menulisnya. Oleh karena itu, sangat penting untuk secepatnya mengupayakan agar kandungan naskah tidak segera hilang seiring rusaknya naskah itu sendiri.   

Ribuan buah naskah kuno yang tersebar di seluruh Indonesia membutuhkan uluran tangan para peneliti untuk membuat agar naskah terbaca. Hal ini karena naskah biasanya berisi buah pikiran pujangga yang dituangkan dalam bahasa dan aksara daerah tertentu. Bahasa dan aksara daerah tentu saja hanya dipahami oleh lingkup masyarakat yang kecil, masyarakat pemilik kebudayaan tertentu. Padahal betapa kayanya isi kandungan naskah kuno itu, sangat berharga untuk dipelajari. Sebagai contoh, naskah Jawa yang berisi cerita sejarah raja-raja Jawa. Banyak sekali naskah yang berisi cerita raja-raja Jawa, di antaranya adalah Serat Suryaraja.         


Serat Suryaraja: Kisah Perjuangan Raden Pujakusuma.

Serat Suryaraja ini bercerita tentang perjalanan tokoh Raden Pujakusuma, seorang putra mahkota, yang berusaha merebut kembali kerajaannya dari tangan orang yang tidak berhak. Perjuangannya yang gigih dengan melewati berbagai rintangan, mengembara ke berbagai daerah untuk menyusun kekuatan, serta pelajaran hidup yang berharga yang diperoleh dalam pengelanaannya membuat putra mahkota ini semakin matang. Secara alegoris, sebenarnya Serat Suryaraja ini menggambarkan kehidupan kerajaan Yogyakarta pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana II.

Dari cerita dalam Serat Suryaraja ini dapat diambil berbagai pelajaran berharga yang dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang, sebagai suri teladan bagi generasi muda, generasi mendatang. Hal ini karena dalam Serat Suryaraja ini berisi gambaran sifat kepemimpinan, kepahlawanan, religi, ketatanegaraan, siasat perang, kehidupan budaya rakyat kecil, dan masih banyak lagi.

Begitu terkenalnya Serat Suryaraja ini karena naskahnya ada di beberapa tempat penyimpanan naskah, dalam berbagai versi. Versi dalam pengertian di sini adalah cerita yang intinya sama, tetapi disampaikan dengan berbagai variasi. Hal ini dimungkinkan karena para pujangga menulis kembali naskah yang terdahulu dengan kreativitasnya sendiri, sehingga dapat berbeda dengan naskah aslinya. Paling tidak ada enam naskah yang masing-masing tersimpan di Museum Sonobudoyo, Perpustakaan Nasional Jakarta, Perpustakaan Pura Pakualaman, dan Kraton Yogyakarta. Satu di antara versi yang sudah pernah dikaji antara lain koleksi Museum Sonobudoyo, yaitu SB 19 sebanyak 432 halaman.

Secara singkat Serat Suryaraja ini menceritakan tentang kerajaan Purwakanda, dengan rajanya Prabu Suryaraja. Raja mempunyai dua putera, Raden Danakusuma dan Raden Jayakusuma. Menjelang wafat, Prabu Suryaraja membagi dua kerajaan untuk diserahkan kepada kedua putranya, menjadi kerajaan Danaraja untuk Raden Danakusuma bergelar Prabu Suryamijaya, dan kerajaan Purwakanda untuk Raden Jayakusuma dengan gelar Prabu Jayakusuma. Prabu Suryamijaya berputra dua orang, Dyah Ayu Rukmini dan Raden Dasadriya, sedangkan Prabu Jayakusuma berputra empat orang, Raden Pujakusuma, Dyah Pujaresmi, Raden  Endrakusuma, dan Raden Gandakusuma.

Ketika Raden Pujakusuma berusia 13 tahun, Raja Jayakusuma wafat, maka pemerintahan Purwakanda sementara waktu dipegang oleh pamannya, Raja Suryamijaya. Sifat buruk Raja Suryamijaya muncul, berusaha untuk menyingkirkan Raden Pujakusuma. Dengan akal liciknya, raja berusaha membunuh Raden Pujakusuma, namun Raden Pujakusuma selamat dari maut meskipun harus terbuang ke samodra. Jasatnya lalu ditemukan oleh seorang pertapa, dirawat dan diberi wejangan berbagai ilmu kesempurnaan dan ketatanegaraan.  Raden Pujakusuma lalu melanjutkan pengembaraan ke arah timur, sampai di pertapaan Mangunkarsa tempat Resi Jatiwirya. Setelah beberapa lama berguru kepada sang resi, Raden Pujakusuma disarankan untuk bertapa di Gunung Damarjati tempat pertapaan Resi Jatikusuma. Perjalanannya melalui berbagai rintangan yang sangat sulit, namun berkat kegigihan dan tekatnya semua rintangan dapat dilaluinya. Tiba di pertapaan Damarjati bertemu dengan sang resi, diberi berbagai wejangan dan diperintahkan untuk menggantikan sang resi bertapa di sana, dengan nama Begawan Sukmajati. Resi Jatikusuma lalu moksa.

Akibat ketekunan tapa Raden Pujakusuma atau Begawan Sukmajati, timbul huru-hara di negara Endrakencana, sebuah kerajaan makhluk halus yang berada di puncak Gunung Manikmaya, dengan rajaputri Prabu Retnadewati. Ketika mengetahui bahwa huru-hara di negerinya akibat tapa Raden Pujakusuma, sang raja marah lalu memerintahkan pasukan raksasa dan jin untuk menyerbu. Karena pasukannya kalah, akhirnya rajaputri turun tangan sendiri, walaupun akhirnya kalah juga. Negaranya menjadi taklukan dan rajaputri diperistri oleh Raden Pujakusuma. Raden Pujakusuma lalu mengikuti sayembara di negeri Tasikmadu memperebutkan putri raja Dewi Condroresmi. Raden Pujakusuma memenangkan sayembara dan mempersunting sang dewi. Selanjutnya Raden Pujakusuma memperoleh banyak pengikut dari berbagai negara taklukan.

Diceritakan raja Purwakanda, Prabu Suryamijaya mendengar khabar adanya ksatria berkelana dengan ribuan prajuit, lalu menyelidikinya. Dari hasil penyelidikan diketahui bahwa ksatria pengelana itu adalah Raden Pujakusuma. Lalu terjadi peperangan yang berlangsung sangat lama dan berpindah-pindah tempatnya, saling serang, berganti kalah dan menang, dengan memakan korban ribuan jiwa prajurit dan harta benda dari kedua pihak. Pada akhirnya, setelah melalui perjuangan yang panjang, Raden Pujakusuma berhasil merebut kembali kerajaan Purwakanda. Raden Pujakusuma lalu dinobatkan  sebagai raja Purwakanda dengan gelar Prabu Suryajayaamisesa. Penobatannya dihadiri para alim ulama, pendeta, resi, dan Sunan Giri. Sang raja memerintah Purwakanda dengan aman sentosa, damai, penuh kebijaksanaan.


Serat Suryaraja: Kekayaan Budaya Yogyakarta.

Dari hasil pembacaan Serat Suryaraja dapat diketahui bahwa naskah ini memuat banyak sekali aspek kehidupan, gambaran jaman pada masa lalu. Bagaimana kehidupan kerabat kerajaan, para prajurit, pertapaan, rakyat jelata, sampai kisah peperangan, siasat yang digunakan dalam peperangan, dan sebagainya. Hal yang tidak kalah menarik dari isi Serat Suryaraja adalah bahwa di sana ada unsur ramalan jaman, sejarah tradisional kerajaan-kerajaan Jawa masa lalu, serta hubungan antar pulau dengan adanya peperangan yang terjadi.

Salah satu versi yang cukup terkenal dari Serat Suryaraja adalah koleksi Kraton Yogyakarta yang disebut Kangjeng Kyai Suryaraja. Naskah ini diperlakukan sebagai benda pusaka, dan sangat dikeramatkan. Naskah ini merupakan koleksi pribadi Sultan Hamengkubuwono secara turun-temurun, disimpan di Prabayeksa. Setahun sekali naskah ini dibersihkan bersama-sama pusaka-pusaka yang lain pada acara siraman pusaka kraton. Acara siraman pusaka ini biasanya dilaksanakan setahun sekali pada hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon, di bulan Suro tahun Jawa (Susilantini, dkk, 1996/1997: 5).

Naskah Kangjeng Kyai Suryaraja merupakan satu-satunya benda pusaka yang berwujud buku atau manuskrip. Hal ini karena benda-benda pusaka kraton Yogyakarta berupa senjata tradisional seperti tombak, keris,  dan perlengkapan perang lain yaitu kereta kuda. Karena kekeramatannya maka tidak sembarang orang dapat melihat atau membaca naskah Kangjeng Kyai Suryaraja ini.


Penutup

Dari uraian di atas dapatlah diketahui bahwa naskah kuno mengandung berbagai ajaran hidup yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masa sekarang.   Kraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan memiliki aneka hasil budaya yang menarik untuk dikenal. Kangjeng Kyai Suryaraja sudah pasti kebanggaan masyarakat Yogyakarta, khususnya lingkungan kraton Yogyakarta.


Daftar Pustaka:

Baried, Siti Baroroh, dkk.

1985      Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Susilantini, Endah, dkk.

     1996/1997  Refleksi Nilai-nilai Budaya Jawa dalam Serat Suryaraja. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Komentar