Layanan Utama

  • Senin, 21 Mei 2012
    Halaman yang menyuguhkan informasi tentang arsip perundangan di Republik Indonesia
  • Senin, 21 Mei 2012
    Layanan pencarian khasanah arsip Kantor BPAD DIY secara online, gunakan username dan password
  • Senin, 21 Mei 2012
    Katalog buku BPAD DIY adalah sarana penelusuran koleksi buku yang dimiliki BPAD Provinsi DIY. Penelusuran dapat dilakukan dengan simple mode (judul buku) dan advanced mode (judul buku atau pengarang).
 

Berita Foto

 

BPAD Video

SERAT YUSUF Kisah Nabi Yusuf dalam khasanah sastra Jawa (Oleh: Titi Mumfangati)
Kategori : Resensi Buku Ditulis : Rabu, 20 Juli 2011 Hits : 769 oleh : Administrator

Pengantar
Keber adaan khasanah sastra Jawa tidak lepas dari peranannya sebagai sumber ilmu pengetahuan maupun ajaran masa lalu. Tidak ada salahnya kita menengok kembali apa saja yang tersurat maupun tersirat dalam khasanah bacaan lama tersebut. Berbagai aspek kehidupan tergambar dalam karya-karya sastra lama. Karya tulis peninggalan nenek moyang dapat dipelajari untuk memperoleh gambaran kebudayaan pada waktu mereka hidup, meskipun tidak lengkap dan tidak menyeluruh (Baried, dkk., 1985: 88). Satu dari sekian karya sastra lama yang patut dicermati adalah cerita tentang Nabi Yusuf. Bagaimana perjalanan Nabi Yusuf semenjak remaja hingga menjadi raja di Mesir sangat menarik untuk dibahas.
Kisah tentang Nabi Yusuf sangat terkenal di kalangan sastra Jawa sehingga naskahnya ada beberapa yang tersimpan di perpustakaan di Yogyakarta maupun Surakarta. Naskah Serat Yusuf yang ada di Yogyakarta tersimpan di perpustakaan Museum Sonobudoyo yaitu naskah Serat Yusuf PB A 266. Naskah ini setebal 274 halaman, berhuruf  Jawa tulisan tangan, bermetrum tembang macapat (Girardet, 1983: 560). Naskah yang lain adalah Serat Yusuf  104 na koleksi Perpustakaan Kraton Surakarta. Naskah ini setebal 256 halaman, berhuruf Jawa tulisan tangan bermetrum tembang macapat (Ibid, hal. 55). Naskah lain ada di perpustakaan Mangkunegaran Surakarta, yaitu Serat Yusup O 21 dengan huruf Jawa tulisan tangan bermetrum tembang macapat setebal 226 halaman (Ibid., hal. 324). Naskah lain terdapat di perpustakaan Radya Pustaka yaitu Serat Yusuf  261, setebal 206 halaman berhuruf Jawa tulisan tangan bermetrum tembang macapat (Ibid., hal. 515). Kisah Nabi Yusuf juga dikenal oleh masyarakat Using di Banyuwangi, bahkan dijadikan bahan macaan di sana. Macaan adalah sejenis seni menembangkan syair-syair macapat seperti halnya macapatan di daerah Jawa Tengah atau Yogyakarta. Di masyarakat Using Serat Yusuf secara aktual masih terus dilantunkan pada acara-acara seremonial seperti kelahiran bayi, khitanan, pernikahan, atau pun upacara adat desa (Mumfangati, 2009).

Isi ringkas Serat Yusuf  PB A 266

Secara ringkas Serat Yusuf menceritakan tentang Nabi Yusuf atau Baginda Yusuf. Baginda Yusuf adalah putera Baginda Yakub, cucu Baginda Iskak. Baginda Yusuf sangat tampan, berbudi pekerti halus, berhati mulia, tidak ada tandingnya di dunia. Ketika Baginda Yusuf berusia dua belas tahun bermimpi melihat matahari dan bulan serta sebelas bintang bersujud kepadanya. Setelah bangun Baginda Yusuf memberitahukan mimpinya kepada ayahandanya, Baginda Yakub. Baginda Yakub menangis dan melarangnya menyampaikan mimpi itu kepada saudara-saudaranya. Baginda Yakub memberitahu makna mimpi itu kepada Baginda Yusuf, bahwa kelak Baginda Yusuf akan menjadi raja dan semua saudara serta orangtuanya akan tunduk kepadanya. Ibu tiri Yusup mengintip, lalu memberitahukan kepada anaknya, Semangun dan saudara-saudaranya. Para saudara tiri itu lalu berembug ingin mencelakakan Yusuf.Yusuf lalu diajak ke hutan dan diceburkan ke sumur Sadat.
Para saudara Yusuf pulang untuk melaporkan kepada ayahanda bahwa Yusuf dimangsa oleh macan. Sebagai bukti mereka melumuri baju Yusuf dengan darah kambing. Para putera menangkap macan yang memangsa Yusuf dan membawa kepada Nabi Yakub. Macan mengatakan kepada Baginda Yakub bahwa ia sedang mencari anaknya yang hilang ditangkap pemburu. Mereka berdua lalu memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan anak mereka.
Datang serombongan kafilah Arab dipimpin Malik. Dahulu Malik pernah bermimpi melihat matahari masuk ke genggamannya, serta awan jatuh berubah menjadi mutiara  lalu diambilnya. Kelak Malik akan mendapatkan seorang anak yang tampan yang akan membuatnya kaya raya dan masuk surga. Malik bertemu dengan Yusuf, lalu akan membawanya. Datang para saudara Yusuf dan mengakui Yusuf sebagai budaknya. Yusuf lalu dijual kepada Malik.
Yusuf diikat dan dibawa bersama barang dagangan. Di perjalanan melewati makam ibundanya, Yusuf berhenti sejenak dan berkeluh-kesah. Yusuf dimarahi dan dipukuli. Yusuf berdoa kepada Tuhan, maka terjadi hujan badai. Rombongan saudagar ketakutan dan merasa mendapat murka dari Tuhan, maka Malik bertanya kepada anak buahnya siapa yang berbuat kesalahan. Besi menjawab dan mengakui telah memukul Yusuf, lalu disuruh meminta maaf. Setelah reda saudagar menyadari Yusuf adalah orang yang dikasihi Tuhan, dan melepaskan ikatan Yusuf. Yusuf diberi pakaian bagus dan disuruh berjalan di depan.
Malik merasa sangat beruntung dengan adanya Yusuf, karena disambut oleh raja Jiyan di Kudus dan diberi hidangan serba istimewa. Tuhan mengirimkan duaratus malaikat untuk menjaga Yusuf. Raja Jiyan melihat berhalanya menyembah Yusuf lalu terpelanting dan hancur. Raja lalu menganut Islam. Ketika Yusuf dan kafilah akan melanjutkan perjalanan, raja Jiyan memerintahkan sepuluhribu duaratus pengiringnya untuk mencegat dan melarikan Yusuf. Tetapi ketika para pengiring itu berpapasan, mereka terpesona sampai tertidur tiga hari lamanya. Yusuf merasa bangga dengan ketampanan sehingga menimbulkan perasaan sombong. Maka ketika sampai ke desa berikutnya penduduk desa itu semuanya lebih tampan-tampan daripada dirinya. Yusuf mendengar sabda Tuhan, yang menyebutkan bahwa banyak makhluk yang lebih tampan daripada Yusuf. Yusuf lalu bertobat.
Kafilah tiba di negeri Mesir. Para penduduk mendengar suara, yang menyatakan bahwa barangsiapa melihat pemuda yang sangat tampan akan merasakan kebahagiaan. Tak lama kedatangan Yusuf ditandai bau harum yang semerbak. Maka orang-orang pun sampai di rumah saudagar Malik. Para penduduk berdesakan sampai lupa rumah sendiri, lupa sanak saudara. Terdengar suara gaib bahwa yang sanggup membeli Yusuf adalah raja Mesir. 
Diceritakan puteri raja Temas yang bernama Jalekha, bermimpi bertemu dengan pemuda yang sangat tampan yang bernama Yusuf dan berada di Mesir. Jalekha lalu terbangun dan memohon ayahandanya untuk mencari pemuda itu di Mesir. Raja lalu mengutus ponggawanya menghaturkan surat kepada raja Mesir. Raja Temas menyerahkan puterinya untuk dinikahi oleh raja Mesir, dan supaya menjemput di perjalanan. Raja Mesir segera menyambut puteri Jalekha di perjalanan. Ketika melihat raja Mesir puteri Jalekha terkejut karena bukan yang ada dalam mimpinya. Jalekha tidak mau memandang raja Mesir. Raja Mesir marah, tetapi setelah melihat kecantikan Jalekha kemarahan raja menjadi sirna. Jalekha mendengar suara gaib yang menyuruhnya bersabar karena raja Mesir itulah yang menjadi sarananya bertemu dengan pemuda impiannya. Putri Jalekha lalu diboyong ke istana. Malam harinya raja akan menggaulinya. Atas kehendak Tuhan puteri Jalekha dilindungi karena ada penggantinya. Maka puteri Jalekha tetap terjaga kesuciannya.
Tersebutlah Yusuf akan dijual oleh Malik kepada raja Mesir. Yusuf akan ditukar dengan emas permata dan busana indah seberat tubuh Yusuf. Ternyata semua harta raja Mesir habis belum dapat menyamai berat tubuh Yusuf. Akhirnya Malik menyetujui untuk melepaskan Yusuf kepada raja Mesir setelah semua uang, emas, permata dan harta benda yang lain milik raja Mesir habis.  
Raja sangat bahagia lalu menggandeng Yusuf. Seketika Malik melihat wajah Yusuf yang tampan, lalu terbuka hatinya dan menyesal telah menjualnya. Malik lalu bertanya siapakah sebenarnya dia. Yusuf mengatakan bahwa dirinya adalah Yusuf putra Nabi Yakub. Malik lalu meminta supaya Yusuf memohonkan kepada Tuhan agar diberi anak, sebab sampai saat ini tidak mempunyai anak. Nabi Yusuf segera memanjatkan doa, hingga akhirnya Malik mempunyai duapuluhempat orang anak. Tak lama kemudian  semua gedung harta penuh isinya utuh seperti sediakala. Yusuf mengatakan bahwa Tuhan mengganti semua hartanya karena raja tidak sayang  akan harta bendanya yang banyak itu ditukar dengan dirinya.
Raja Mesir mengangkat Yusuf sebagai anak dan mengajaknya masuk istana.   Ketika permaisuri melihat Yusuf terkejut dan jatuh cinta. Permaisuri teringat bahwa pemuda itulah yang ada dalam mimpinya. Permaisuri menyuruh dayang-dayang mengambil busana indah untuk Yusuf. Maka semakin bertambahlah ketampanan Yusuf sehingga permaisuri semakin jatuh hati dan sakit asmara. Permaisuri memanggil Yusuf untuk datang ke taman. Keduanya lalu naik ke peraduan dan hampir saja melakukan perbuatan jinah. Tuhan lalu menyuruh Jibril  mengingatkan Yusuf agar tidak berbuat dosa. Yusuf lalu tersadar dan segera pergi dari peraduan. Permaisuri menahan dan memegangi baju Yusuf hingga sobek bagian belakangnya.
Permaisuri lalu mengadu kepada raja bahwa Yusuf menggodanya, sehingga raja sangat marah. Yusuf lalu dipanggil dan akan dihukum. Raja mengakui Yusuf tidak bersalah lalu meminta Yusuf untuk merahasiakannya. Namun demikian beritanya cepat tersebar sehingga permaisuri merasa malu. Permaisuri lalu memanggil isteri para menteri dan menyiapkan sebuah jeruk dan sebuah pisau cukur yang tajam. Para isteri menteri disuruhnya mengupas jeruk ketika Yusuf datang, maka mereka semua jarinya teriris karena terpesona oleh ketampanan Yusuf. Mereka minta maaf kepada permaisuri, sampai di rumah mereka masih terkagum-kagum bahkan lupa kepada anak dan suaminya. Para menteri memohon agar raja menghukum Yusuf. Raja lalu memenjarakan Yusuf. Bersama Yusuf dihukum juga pelayan raja dan penjaga pintu.
Selama dalam penjara Yusuf dianugerahi ilmu untuk menafsirkan mimpi. Kedua orang yang bersamaan dipenjara bermimpi lalu menanyakannya kepada Yusuf. Yusuf bersedia menafsirkan arti mimpi kalau mereka mau menganut Islam. Penjaga pintu bersedia, lalu Yusuf mengatakan bahwa tiga hari lagi penjaga pintu akan dibebaskan dan diberi kedudukan oleh raja. Pelayan raja tidak mau menganut Islam, Yusuf mengatakan bahwa kelak pelayan akan dihukum rajam sampai otaknya keluar dan dipatuk gagak. Keesokan harinya peristiwa itu benar-benar terjadi. Penjaga pintu bertanya siapa sebenarnya Yusuf. Yusuf pun mengatakan bahwa ia adalah putra Nabi Yakub, cucu Nabi Iskak. Tak lama penjaga pintu dibebaskan.
Suatu hari raja bermimpi, tetapi setelah bangun lupa apa mimpinya. Para brahmana cerdik pandai tidak mampu menebak mimpinya. Sang penjaga pintu yang dulu pernah dipenjara tiba-tiba teringat kepada Yusuf, lalu menghadap raja dan menyampaikan pesan Yusuf. Penjaga pintu lalu menemui Yusuf dan menanyakan mimpi raja. Yusuf mengatakan raja bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, dan tujuh daun hijau dimakan tujuh daun kering.
Penjaga pintu pun menyampaikannya kepada raja. Seketika raja tertawa senang karena memang benar mimpinya seperti itu. Raja memerintahkan ponggawa untuk menjemput Yusuf di penjara. Raja juga memenuhi keinginan Yusuf untuk membebaskan semua orang yang dipenjara. Raja lalu mengangkat Yusuf sebagai pendampingnya dan  bertanya apa makna mimpinya. Yusuf menjawab bahwa dalam tujuh tahun pertama akan banyak hujan, tanaman subur dan panen padi berlimpah. Tetapi tujuh tahun berikutnya tidak ada hujan, tanaman mati tidak ada panen padi akhirnya menjadi paceklik. Yusuf menyarankan agar seluruh rakyat  menanam padi sebanyak-banyaknya, jangan ada lahan yang kosong, bahkan sampai ke hutan gunung. Rakyat supaya membuat lumbung padi dan menyimpan hasil panen sebanyak-banyaknya. Yusuf lalu diangkat sebagai raja Mesir menggantikan raja lama. Tak lama Raja Yusuf dan Jalekha menikah, hidup bahagia dan mempunyai dua putra, Raden Ibrahim dan Raden Abil.
Selama tujuh tahun pertama, raja memerintahkan rakyat Mesir untuk bertanam secara giat, bahkan membeli beras dari negeri-negeri tetangga. Maka persediaan pangan di Mesir sangat banyak. Tibalah tahun ke delapan mulai kemarau, negeri-negeri tetangga mulai membeli beras ke Mesir. Setiap hari datang orang berduyun-duyun membeli beras ke Mesir. Sampai akhirnya tidak ada lagi harta benda yang dapat ditukarkan dengan beras. Raja Yusuf pun menyedekahkan beras kepada setiap orang yang datang. Di Kenahan saudara-saudara Yusuf mendengar khabar kedermawanan raja Mesir. Mereka datang meminta sedekah, lalu dijamu oleh raja Yusuf dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak tahu kalau raja Mesir adalah Yusuf saudara mereka. Raja Yusuf membuat suatu cara sampai akhirnya mereka menyesal telah mencelakakan Yusuf dahulu. Mereka  lalu mengetahui bahwa raja Mesir itu adalah Yusuf, saudara mereka sendiri. Nabi Yakub sekeluarga lalu diboyong ke istana Mesir. Nabi Yakub memerintahkan saudara-saudara Yusuf untuk menebus kejahatannya dahulu dengan menaklukkan negara-negara sekitar Mesir. Raja Yusuf bertahta selama 115 tahun.

Pesan moral dalam Serat Yusuf
Sesungguhnya apabila orang mendengar kisah Nabi Yusuf maka yang akan terlintas adalah bahwa Nabi Yusuf terkenal karena ketampanan wajahnya. Demikian pula dengan tokoh Jalekha sebagai seorang wanita yang sangat cantik. Ketampanan Nabi Yusuf ini sepanjang kisah mewarnai perjalanan Nabi Yusuf sampai akhir cerita. Pertama karena ketampanannya Yusuf sangat disayangi oleh ayahandanya. Hal ini menjadikan saudara-saudara tirinya iri.
Pada bagian awal diceritakan kejahatan saudara tiri Nabi Yusuf memberikan hikmah agar kita tidak berbuat kejahatan, sebab pada akhirnya kejahatan akan mendapatkan balasannya. Selanjutnya ketampanan Nabi Yusuf menyebabkan raja Tesan, raja Kudus, dan raja Mesir sangat terpesona sampai bersedia melakukan hal-hal yang sangat istimewa. Raja Mesir bersedia membeli Yusuf dengan seluruh harta benda yang dimilikinya. Pada bagian lain karena terpesona pada ketampanan Nabi Yusuf para wanita tanpa sadar mengiris  jari mereka sendiri sampai berdarah.
Kejahatan yang dilakukan Semangun sesaudara lebih dikarenakan rasa iri dan dengki. Mereka iri kepada Yusuf yang lebih disayangi oleh ayahandanya, Nabi Yakub. Apalagi dengan adanya mimpi  yang dimaknai oleh Nabi Yakub bahwa kelak Yusuf akan menjadi raja dan mereka akan bersujud kepada Yusuf. Para saudara tiri merasa sangat iri dan benci kepada Yusuf. Oleh karena itulah para saudara tiri itu mencari akal untuk melenyapkan Yusuf. Mimpi Nabi Yusuf itu yang kemudian mengawali peristiwa di hutan  dan memicu kisah berjalan saling bersambung hingga akhirnya Yusuf benar-benar menjadi raja di Mesir.
Nabi Yusuf selain berparas tampan juga berbudi pekerti mulia. Ini digambarkan dengan kesabarannya menjalani segala siksaan yang dilakukan oleh saudara-saudara tirinya. Kemuliaannya juga tampak pada saat Nabi Yusuf menjadi raja di Mesir. Dengan penuh keikhlasan Nabi Yusuf membagikan bahan pangan pada waktu musim paceklik melanda negerinya bahkan di negeri-negeri sekitarnya. Di samping itu, sebagai seorang anak, Nabi Yusuf menujukkan baktinya kepada orang tua dan rasa sayangnya kepada saudara-saudaranya dengan memboyong mereka untuk tinggal bersama di istana Mesir. Tidak ada rasa dendam dalam hatinya walaupun dahulu pernah diperlakukan kejam oleh saudara-saudara tirinya.
Hal yang tidak kalah menarik dari kisah Nabi Yusuf adalah bagaimana Yusuf dengan ketampanannya mampu mengajak orang untuk beriman. Raja Tesan, saudagar kaya, penjaga pintu, bahkan raja Mesir, menjadi sadar tanpa paksaan hanya dengan menatap paras Nabi Yusuf yang tampan. Mereka secara suka rela mau mematuhi ajakan Yusuf untuk beriman kepada Tuhan dan meninggalkan kepercayaan lama menyembah berhala. Inilah sebenarnya pesan moral yang sangat penting yang secara tersirat merupakan aspek utama dalam kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf.
Beberapa hal di atas merupakan teladan perilaku yang pantas untuk diteladani dalam kehidupan masa sekarang. Apalagi dengan kondisi masyarakat dewasa ini yang sangat labil dan mudah terbawa emosi maka pesan-pesan luhur dari kisah-kisah keteladan seperti ini sangat penting untuk dimunculkan kembali sebagai pedoman dalam membina watak dan jati diri bangsa.

Penutup.
Sebagai karya sastra Jawa yang mengisahkan kehidupan seorang tokoh nabi, Serat Yusuf sangat tepat untuk dijadikan suri teladan dalam kehidupan masyarakat masa kini. Segala aspek nilai ajaran yang digambarkan dalam kisah ini memberikan teladan agar masyarakat sekarang bisa mencontoh perilaku mulia dari seorang nabi. Memang tidak dapat dipungkiri khasanah sastra Jawa mengandung gambaran kehidupan masa lalu. Oleh karena itu, sangatlah bermanfaat apabila aspek-aspek budi luhur yang terdapat di dalamnya digali, diungkapkan, dan disebarluaskan kepada generasi muda sekarang.

Daftar Pustaka

Baried, dkk.
1985    Pengantar Teori Filologi. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta

Girardet,  N., dkk.
1983    Descriptive Catalogue of the Javanese Manuscripts and Printed Books in the Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta. Jakarta: Penerbit Steiner Verlag.

Mumfangati, T.
2009    “Macaan ‘Lontar’ Yusup: Tradisi Lisan sebagai Bentuk Pelestarian Nilai Budaya pada Masyarakat Using, Banyuwangi.”  Dalam Patrawidya. Seri penerbitan penelitian sejarah dan budaya. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. Hal. 251-290.

Poerwadarminta, WJS
1939    Baoesastra Djawa. Penerbit JB Wolters Uitgegevers Maatschappij, Batavia
Serat Yusuf PB A 266 koleksi Perpustakaan Sonobudoyo Yogyakarta.


 


(Titi Mumfangati - BPSNT Jl. Brigjen Katamso 139 Yogyakarta)

Komentar